Thursday, December 08, 2016

Numpang Tidur di The Port by Quarters Hostel Singapore

Buat kalian yang lagi pada bingung, "Duh, di Singapura, tidur di mana, ya?", sini gue kasitau, deh. Berhubung hotel di Singapura relatif mahal, sempit, dan rata-rata tanpa sarapan pagi, gue sarankan mending pilih hostel kalau emang bener-bener mepet biaya alias budget traveler. Tapi kembali lagi pada preferensi masing-masing, ya!
Source: Foto Pribadi @shafiraira
Sebelum ke Singapura, pastinya browsing di Agoda dulu. Cek hotel mana yang murah, mana yang sekiranya enak untuk ditempati, cek lokasi hotel, cek fasilitas, lengkap lah. Di Agoda banyak banget pilihannya, jadi bingung. Sempet galau juga pilih hotel yang mana, secara rata-rata hotel tanpa sarapan pagi, dan gue kurang suka dengan lokasinya (di Geylang, di pikiran udah blacklist untuk area itu, lebay, hahaha). Bila membandingkan antara hotel dan hostel dengan harga yang hampir sama, di hostel mendapatkan sarapan pagi sedangkan di hotel tidak, di hotel kamarnya private sementara di hostel berbagi dengan yang lain. Pilihan jatuh di The Port by Quarters Hostel Singapore.
Source: http://theport.stayquarters.com/
Mengapa di situ? Begini alasannya:
  1. Ada Queen Capsule. Ingin penginapan yang ada sarapan pagi, kalau di hotel engga bakal dapet, hemat intinya, sih.
  2. Lokasinya cucoks. Ke Merlion tinggal jalan (ini penting karena -katanya- belum ke Singapura kalau belum ke Merlion, haha). Terletak di antara 2 stasiun MRT, jaraknya pun tidak terlalu jauh. Tapi, gue sarankan keluar-masuk lewat jalur Raffles Place aja kalau mau ke sini. Ke Clarke Quay masih rada jauh, kecuali kalau doyan jalan sekalian jalan-jalan.
  3. Harga tidak berbeda jauh dengan hotel yang sebelumnya hendak dipilih. Harga hotel yang sebelumnya sekitar Rp500.000++, sedangkan di hostel ini untuk bed berdua, kami mendapat harga sekitar Rp1.318.000-an untuk 3 malam. Lumayan daripada lumanyun.
  4. Di pikiran saat memilih tempat ini, "Deket tempat gaul Singapura (by the river), gampang cari makan.". Emang, sih, tempat hangout para expatriat Singapura, tapi ragu akan kehalalannya dan isi dompet, ujung-ujungnya fastfood, hahaha!
  5. Dilihat dari fasilitas, sih, oke. Baru buka di tahun 2015, harapannya engga nemu yang lapuk-lapuk. Alhamdulillah-nya emang keliatan banget barunya.
Setibanya di Singapura (di MRT Raffles Place), dengan panduan dari website hostel bagaimana menemukan hostelnya, tanpa nyasar, kami pun tiba dengan selamat di hostel. BTW, tips cari letak hostel di Singapura, lihat gedung bagian atasnya, jangan terpaku dengan bagian depannya (bawahnya), rata-rata bagian depannya (bawahnya) itu toko atau kios, hostel terkadang berada di lantai atas dari toko atau kios tersebut. Sign hostel pun selalu berada di lantai atasnya, seperti pengalaman waktu pertama kali backpacking ke Singapura, letak hostel di Chinatown, bingung engga nemu si hostel padahal katanya cuman 5 langkah dari pintu keluar MRT Chinatown, sedangkan di lorong jalan itu penuh sama tukang jualan. "Di mana si hostelnya?", pikirku saat itu. Saat melongok-longok ke atas, "Lah itu ternyata, daritadi capek nyariin, deket pisan dari MRT ini mah.". Tapi ada juga, kok, yang langsung di bawah. Yang penting, jangan malas baca website hostelnya, karena suka ada penjelasan letak hostelnya, biar engga wasting time nantinya ketika cari letak si hostel tersebut.
Source: http://theport.stayquarters.com/
Sampai di resepsionisnya, kami diberitahu peraturan hostelnya bahwa kami tidak boleh makan maupun minum di kamar, kecuali minum air putih, masih boleh. Gue lihat sekeliling ruangannya, leh uga pemandangannya. Tapi, kecil banget ruangannya kalau untuk sarapan pagi. Kalau habis menggunakan peralatan makan/minum, harus cuci sendiri, self service gitu, deh. Foto yang gue ambil ini sepertinya foto lama, karena di pojok kanan dekat tempat duduk belum ada wastafel untuk cuci piring dan tangan.
Source: http://theport.stayquarters.com/
Setelah mendapat kunci kamar, kami diantar menuju kamar kami yang terletak di lantai 3. Cukup melelahkan untuk naik tangganya (lebay). Sebelumnya, kami ditunjukkan dimana letak kamar mandi dan di mana kami bisa 'nongkrong' untuk sekedar minum ataupun makan.
Source: http://theport.stayquarters.com
Source: http://theport.stayquarters.com/
Kami diberitahukan bahwa kami bebas menggunakan komputer di pojokkan. Di foto yang gue ambil dari websitenya pun belum ada tempat setrika. Di sini, kita bisa nyetrika baju sendiri tanpa biaya tambahan (CMIIW), Ada juga mesin cuci, tapi sekali cuci harus bayar sekian dolar, sekitar $10 (bisa jadi kurang) kalau tidak salah, yang pasti, mahal!
Source: http://theport.stayquarters.com/
"Wih, lucu juga.", first impression atas kamarnya yang suppppah-cute, in my honest opinion. Loker di bawah bednya juga lucu dan luaaaaaaaaaaaaaaaaaaassssssssssssss ke dalam.. Orang juga bisa tidur di situ, tapi kemudian susah nafas, hahahaha, Di dalam capsule-nya, ada semacam tempat buat nyimpen laptop ataupun handphone (seperti di foto). Amazing-nya, ternyata plugnya mereka itu udah internasional, jadi engga perlu bawa plug tipe kaki tiga.
Source: Foto Pribadi @shafiraira
Kami sempat request untuk ditempatkan di bed bawah, dan dikabulkan oleh pihak hostel. Mungkin juga memang kebetulan kosong juga, hahaha. Kebayang, sih, ribetnya harus naik tangga dulu ke bed kalau di bed atas.
"Kok kebuka gitu, sih, bed-nya?", mungkin pikiran itu terlintas, eh apa engga? Yang pasti, ada tirainya, kok. Jadi tetep ada privasi dan pastinya tidak tembus pandang dari luar selama lampunya mati. Kalau lampunya nyala dan tirainya ditutup, ya keliatan lagi ngapain di dalamnya.
Kamar mandinya juga bersih dan ada 4 kamar mandi, lumayan lah. Ada air panasnya juga, walaupun sesungguhnya menurut gue air panas tidak dibutuhkan karena cuacanya udah panas. Oh iya, buat para wanita yang khawatir rambut basah habis keramas tapi pengen cepet jalan-jalan, di hostel ini disediakan hair dryer di lounge-nya, gratis! Selain itu, isi ulang air minum juga gratis, disediakan di hostel ini! Seneng, kan, denger yang gratis?
Akhir dari cerita ini, semoga cerita ini bermanfaat.
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!
CHEERS!

Monday, November 28, 2016

Membuat Paspor Secara Online

Kali ini, gue bakal bercerita bagaimana mudahnya memperpanjang ataupun membuat paspor secara online. Sudah lama ingin banget perpanjang paspor, tapi banyak kendalanya, antara males antri, ribet urusan birokrasi, waktu mepet, dan sebagai macam alasan yang sebenarnya bisa diakali. Hingga suatu hari, Tante gue ngajak bikin paspor untuk anak-anaknya, kemudian berpikir, "Apakah gue sekalian perpanjang paspor? Apakah ini waktu yang tepat?". Mumpung waktu lowong, gue memutuskan untuk ikutan perpanjang paspor, paspornya dipake kemana, itu urusan nanti.
Juni 2016, saat bulan puasa, gue rasa adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke kantor imigrasi. Sebelumnya sekitar bulan Maret 2016, pernah mencoba membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Bandung di Jalan Soekarno Hatta No.348. Kenapa di situ? Menurut sumber terpercaya dan pengalaman, antrian di situ tidak akan sebegitu parahnya seperti yang di Jalan Surapati, karena saat mengantar pacar (sekarang suami) membuat paspor (tahun 2015), baru datang sekitar jam 9 atau 10, masih dapat antrian dan selesai sebelum jam makan siang. Ternyata, saat gue kembali lagi ke situ, tidak sesepi yang diharapkan, datang jam 8, antrian udah penuh, kami pun ditolak. Gagal lah.
Keterbatasan waktu, membuat gue memutuskan untuk menyarankan membuat paspor secara online, baik perpanjangan maupun permohonan baru. Awalnya ragu untuk online, karena antrian online hanya tersedia di Kantor Imigrasi Surapati, membayangkan antrian penuh sesak, itu udah pesimis duluan. Begini prosedur permohonan paspor secara online:

  • Masuk ke website Layanan Paspor Online atau search di Google dengan keyword 'paspor online', nanti akan muncul link-nya. Mungkin akan ada notifikasi bahwa link tersebut agak berbahaya, lanjut saja.

Tampilan website Layanan Paspor Online
  • Pilih 'Pra Permohonan Personal'. Isi data yang dibutuhkan. Apakah permohonan paspor baru, perpanjangan, atau lainnya. Klik 'Lanjut'.
  • Isi informasi pemohon. Jangan sampai salah isi, ya! Dicek lagi sebelum klik 'Lanjut'. Walaupun nanti saat wawancara, akan ada verifikasi data oleh petugas. Untuk bagian identitas, karena masa berlaku e-KTP sudah seumur hidup, pada bagian masa berlaku identitas, tambahkan 5 tahun ke depan dari tanggal identitas dikeluarkan. Hal ini berlaku juga untuk anak-anak yang belum mempunyai KTP, nomor identitas didapat dari kartu keluarga (NIK).

  • Isi terus informasi pemohon hingga ada jumlah uang yang harus dibayarkan dan metode pembayaran yang diinginkan, kemudian akan ada captcha sebagai verifikasi bahwa pemohon bukanlah robot.
  • Setelah itu akan tampil informasi pembayaran dan konfirmasi permohonan yang berisi informasi kantor imigrasi yang akan kita tuju, tanggal yang tersedia untuk kanim yang dipilih kemudian masukan kode caphtcha dan klik tombol lanjut.
  • Nanti akan ada email konfirmasi dan juga lembaran yang harus dibawa saat melakukan pembayaran. Pembayaran tidak boleh lebih dari 5 hari dari email diterima, ya! Kalau lebih dari 5 hari, kamu harus isi ulang permohonan paspornya.
  • Kalau sudah melakukan pembayaran, kamu harus klik link konfirmasi yang ada di email konfirmasi permohonan sebelumnya. Setelah klik linknya, nanti kamu diharuskan isi formulir lagi.
Bukti Pembayaran 
  • Kamu akan masuk ke halaman Konfirmasi Tanggal Kedatangan. Pada halaman tersebut juga terdapat contoh resi, untuk melihat No. Jurnal apabila pemohon telah melakukan pembayaran. Di situ pula kamu memilih tanggal kedatangan kamu nanti di Kantor Imigrasinya.
  • Cek email lagi, deh. Formulir itu diprint dan nantinya dibawa saat ke Kantor Imigrasi, ya!
Sorry, gambarnya engga lengkap untuk yang online, karena gue engga bisa lanjut ke menu selanjutnya, mungkin sistem 'ngeh' kalau gue udah punya paspor dan malah pilih permohonan paspor baru, hahaha. Lebih jelasnya bisa dilihat di sini.
Setelah daftar online, kita hanya tinggal menunggu tanggal yang kita pilih sebelumnya (jangan sampai lupa tanggalnya, ya!). Jangan lupa sedia lem, pulpen, ataupun alat tulis lainnya yang kemungkinan berguna. Waktu itu, gue datang jam 6 pagi, alhamdulillah antrian online kebagian nomor awal, sedangkan yang walk-in sudah antrian nomor 60-an. Kebayang, dong, nunggunya bakal lama banget kalau walk-in? Dan, saat itu lagi bulan puasa, tetep aja rame.

Nomor Antrian
Suasana Kantor Imigrasi Bandung
Suasana Saat Hari Pengambilan Paspor
Nomor Antrian Pengambilan Paspor 
Engga perlu nunggu lama, gue udah dipanggil untuk foto dan wawancara. Gue iseng tanya bapak petugasnya, "Pak, jam segini kok udah rame aja, sih?". Bapaknya cuma bilang, "Ya beginilah.". Sesungguhnya itu bukan jawaban yang gue inginkan, engga ada drama-dramanya gitu, hahaha.
Jam 7 pun gue udah selesai urusan di Kantor Imigrasi. Cepet banget! 
Seminggu kemudian pun gue kembali lagi ke Kantor Imigrasi untuk mengambil paspor. Antrian pengambilan paspor cukup panjang tapi tidak memakan waktu lama. Hanya kurang lebih 30 menit, paspor baru sudah berada di tangan gue. Tidak lupa, gue meminta paspor lama gue untuk bisa dipegang alias disimpan sebagai kenang-kenangan, hanya dengan mengisi form yang diberikan petugas dan kita bubuhi materai dan tanda tangan kita. Kelar, deh!
Paspor Lama dan Baru
Persyaratan paspor juga bisa dilihat di sini. Mudah, kok, persyaratannya. Juga tidak perlu menggunakan calo kalau memang kamu tidak begitu sibuk. Selamat membuat paspor!
Keep Traveling and Share Your Travel Experience!

Tuesday, May 17, 2016

Keterkaitan Antara Guha Pawon dan Stone Garden Padalarang

Semenjak pertama kali Stone Garden Padalarang menjadi booming di kalangan para -yang ngakunya- traveller, gue penasaran dong. Apa yang membuat Stone Garden Padalarang menjadi populer? Kalau lihat dari hasil perkepoan foto-foto orang di Stone Garden Padalarang, cuman sekumpulan batu biasa. Kebanyakkan hanya menikmati pemandangan dan yang penting bisa foto tanpa mengetahui seluk beluk sejarah terbentuknya Stone Garden Padalarang.
Alhamdulillah, gue diberikan kesempatan berkunjung ke Stone Garden Padalarang bersama -anggap saja- 'gegedug' Padalarang, namanya Verani. Dia mengambil topik skripsi mengenai Guha Pawon, maka dia sangatlah familiar dengan Guha Pawon, begitu pula dengan Stone Garden Padalarang. Lokasi Guha Pawon sendiri terletak tidak berjauhan dari Stone Garden Padaralang. Niat awal hanya mengunjungi Guha Pawon untuk suatu proyek tertentu, tapi disambi dengan juga mengunjungi Stone Garden Padalarang.
Aksesibilitas menuju Guha Pawon mudah, kok. Di Google Maps juga ada rutenya, cuman kalau nyetir sendiri harus apal sama gerbang jalan masuknya. Gue mesti putar balik arah karena engga hapal gerbang jalan masuk ke Guha Pawon karena teman gue lupa menginformasikan bahwa gue mesti belok kanan (dari arah Bandung). Bis tidak disarankan masuk ke akses jalan Guha Pawon, engga muat.
Guha Pawon
Sempet bingung, kenapa namanya 'Guha' dan bukan 'Goa' atau 'Gua' seperti pada umumnya. Pemandu gue, Verani, mengatakan bahwa 'Guha' adalah Bahasa Sunda dari 'Goa' atau 'Gua'. Percaya aja deh sama 'gegedug' Padalarang. Saat itu gue mengunjungi pada saat hari kerja, jadi tidak ada pungutan biaya masuk dan keadaan super sepi. Alhamdulillah, saat gue berkunjung ke Guha Pawon, pengelola Guha Pawon, Ibu Yeti, sedang berada di tempat, padahal biasanya kalau mau bertemu dengan beliau harus janjian dulu dan biasanya beliau hanya bisa pada saat weekend. Jadilah kami pun mengobrol mengenai proyek yang gue rencanakan yang berhubungan dengan ekowisata demi keberlangsungan atraksi wisata dan disambut baik oleh beliau. Beliau mengajak kami untuk ikut program yang akan mereka jalankan yaitu program penanaman 200 pohon secara serentak di area Guha Pawon yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2016, yuk atuh ikutan! (Promosi, hahaha).
Tangga Menuju Guha Pawon
Goa-goa
1st impression, cool! Kata Verani sang 'gegedug', jadi dulunya Guha Pawon ini adalah rumah manusia purba. Juga di Guha Pawon ini ada batu berbentuk karang seperti karang yang ada di laut karena dulunya Guha Pawon itu adalah danau purba. Arti 'Pawon' sendiri adalah kelelawar dalam Bahasa Sunda dan memang Guha Pawon ini sarang kelelawar.
Jendela Rumah Manusia Purba
Keren banget! Di situ ada bebatuan (coba zoom, deh) semacam karang di laut, keren ya? Kebayang danaunya dulu sedalam apa, apalagi kalau sudah melihat jendela tersebut. Wiih, kece.
Cahaya Surga
Nah, untuk lubang goa ini, katanya di atas Guha Pawon ini adalah Stone Garden Padalarang. Yang asalnya gue engga mau ke Stone Garden, jadi penasaran ingin ke sana untuk mencari tahu letak si lubang goa tersebut.
Cahaya Surga Lainnya
Lubang di atas goa itu, menurut gue adalah tempat tidur si manusia purba. Hahaha. Anehnya, ada aja orang yang 'iseng' memanjat ke atas untuk 'sekedar' meninggalkan jejak dengan cara menulis di dinding goa. Heran dengan perilaku seperti itu.
Setelah puas menikmati Guha Pawon, gue ingin ke Stone Garden. Ada 2 cara untuk ke Stone Garden dari Guha Pawon:
  1. Naik kendaraan menuju Stone Garden dari Guha Pawon.
  2. Naik tangga ke atas yang sudah ada rutenya ke Stone Garden, tapi medannya cukup berat bagi orang yang engga kuat jalan seperti gue
Karena males dengan jalan kaki, gue memutuskan untuk lanjut dengan kendaraan menuju Stone Garden. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Guha Pawon, hanya medannya bebatuan yang menyebabkan gue deg-deg-an setengah mati nyetir mobil sedan dengan medan jalan seperti itu.
Stone Garden Geo Park
Wih, baru masuk udah disambut dengan pemandangan seperti itu, berasa di Jurassic Park. Kembali ke zaman batu. Kalau dari parkiran mobil, Stone Garden berasa jauh banget, tapi kalau dijalani ya biasa saja.
Fosil Ikan Purba
Pertama lihat batu ini, pikiran gue langsung melanglangbuana kepada zaman batu dan langsung nebak ini adalah fosil ikan purba. Tapi yang pasti bukan fosil beneran, hanya menyerupai. Tergantung imajinasi masing-masing, ya.
Cool View
Sampah Bertebaran
Tempat wisata alam bukan berarti bisa buang sampah di alam. Sayang sekali masih banyak ditemukan sampah di tempat terbuka seperti ini. Padahal, sebenarnya membawa sampah hingga menemukan tempat sampah bukanlah hal yang sulit, kan? Lagipula, di Stone Garden pun disediakan tempat sampah.
Rasa penasaran untuk mencari lubang yang menembus Guha Pawon pun mendadak hilang karena cuaca sudah mendung dan waktu sudah menuju malam. Maka, pulanglah kami kembali ke Bandung.
Tips dan saran mengunjungi Guha Pawon dan Stone Garden:
  1. Gunakan sepatu/sendal outdoor, yang penting bukan sendal/sepatu flat untuk jalan-jalan apalagi high heels.
  2. Kalau bawa sampah, jangan langsung dibuang sembarangan, simpanlah sampahnya terlebih dahulu, dibuang kalau menemukan tempat sampah. Hal sederhana yang dapat menjaga kelestarian atraksi wisata kebanggaan. Adab merokok pun begitu, jangan buang puntung rokoknya sembarangan, kalau kebakaran, repot dong.
  3. Jangan naik-naik ke atas batu yang tinggi-tinggi, sejago apapun kamu, minimal ada pemandu yang dapat menginstrusikan dan kenal dengan lokasi. Kalau jatuh, yang repot semua orang.
  4. Jangan coret-coret di dinding/batu alam, bukannya memperindah malah mengotori.
Sebenarnya, agak khawatir juga dengan populernya Stone Garden. Apalagi setelah mengetahui bahwa Stone Garden sesungguhnya terletak di atas Guha Pawon. Bayangkan, kalau semakin banyak yang mengunjungi Stone Garden, bisa jadi tanahnya 'turun' ke bawah dan Guha Pawon jadi 'tenggelam'. Juga, dengan adanya pabrik kapur, mereka terus menggerus alam demi keuntungan mereka, entahlah apabila masyarakat lokalnya pun diberi keuntungan juga dengan adanya pabrik kapur. Yang pasti, hukum alam berlaku.
Keep Traveling and Share Your Travel Experience!
Berasa di Zaman Batu

Thursday, May 12, 2016

Mampir di Teras Cikapundung Bandung

Sudah hampir 3 tahun Bapak Ridwan Kamil menjabat sebagai Walikota Bandung. Selama masa jabatannya pula, perubahan yang terasa adalah semakin menjamurnya ruang terbuka di Kota Bandung. Selain lampu di Jembatan Layang Pasupati dan Gedung Sate yang sempat membuat gue rindu akan Kota Bandung pada masanya, taman-taman yang dibangun maupun dibuka pada masa jabatan beliau membuat gue penasaran akan tenarnya taman-taman tersebut.

Salah satunya adalah Teras Cikapundung yang terletak di Jalan Siliwangi. Dulu, sebelum ada Teras Cikapundung, mana ada kepikiran untuk sekedar menengok ke bawah jembatan Siliwangi, males banget rasanya. Semenjak ada berita tentang revitalisasi sungai di bawah jembatan Siliwangi, tiap melewati Jalan Siliwangi, rasa penasaran selalu mengiringi, "Mau dijadikan apakah tempat itu?".
Rasa penasaran makin menghantui setelah berita diresmikannya Teras Cikapundung sebagai salah satu ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Euphoria masyarakat sangatlah tinggi, termasuk gue.
Baru-baru ini gue mengunjungi Teras Cikapundung berbekal rasa penasaran sekaligus mencari sebuah inspirasi. Ternyata, meskipun weekday, Teras Cikapundung pun tetap ramai pengunjung. Pengunjung yang gue lihat saat itu sekedar berkumpul dengan keluarga, datang dengan pasangan, berfoto-foto, bahkan ada yang membawa bekal makanan dan makan di ampitheatre. Keren.
Mungkin gue datang di saat yang kurang tepat, pengen liat air mancur, tapi engga jalan. Air sungainya pun coklat banget, persis kayak warna susu coklat.
Selain bisa 'piknik' di Teras Cikapundung, kita juga ternyata bisa melakukan aktivitas rafting. Sayangnya, di saat gue berkunjung, lagi engga ada yang rafting.
Rafting
Tarif Rafting
Untuk berkunjung ke Teras Cikapundung, tidak dikenakan biaya apapun. Paling hanya biaya parkir kendaraan. Di Teras Cikapundung pun ada spot untuk berdonasi atas nama 'menjaga kebersihan taman', semoga saja dana yang didonasikan memang digunakan dengan sebaik-baiknya, meskipun hanya dipungut Rp2.000,-. Masuk ke toilet pun harus bayar, gue memang tidak ke toilet saat itu, tapi melihat di dekat toilet ada seorang yang duduk dengan kotak uang di depannya selayaknya penjaga toilet.
Ampitheatre
Stop Kontak
Di area ampitheatre pun ada cukup banyak stop kontak, tapi sayangnya ketika gue mencoba salah satu untuk charge handphone, ternyata tidak berfungsi. Bisa jadi sengaja dimatikan karena beberapa waktu belakangan ini banyak sekali bermunculan para pencari stop kontak karena baterai handphone habis dan tidak membawa powerbank. Gue engga tau apakah stop kontak itu akan berfungsi apabila ada acara di Teras Cikapundung.
Cinta Kebudayaan & Pariwisata
Seindah Kenangan Sama Mantan
Cobalah sekali-kali menjadi turis di kota sendiri, jangan malu-malu. Jangan keseringan nongkrong di cafe, cobalah ke ruang terbuka hijau, menikmati alam.
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!