Thursday, February 28, 2013

Kesempurnaan Pengamen Buta

Jaman sekarang, kalo denger kata 'pengamen', pasti yang ada di pikiran tuh semacam : ganggu, jahat, kalo ga dikasih uang langsung ngegores mobil, suara sumbang pas-pasan, nyanyi asal-asalan, dan segala macamnya. Tapi kalo denger kata 'pengamen buta', apa coba yang ada di pikiran?
Apa mereka beneran buta?
Gimana cara mereka 'berjalan' sendiri tanpa bantuan orang lain?
Pengamen Buta
Nah, itu gambaran dari pengamen buta yang gw ambil di perempatan Dukomsel Dago, kalo sering lewat situ, pasti bakal nemuin banyak pengamen buta. Bukan untuk menghina, tapi bagaimana cara mereka bisa bermain gitar? Sebenarnya, tiap kali mereka berdiri di samping kaca mobil gw, gw ga sepenuhnya mendengarkan suara mereka dan memperhatikan cara mereka bermain gitar. Gw hanya berpikir, 'apa ini orang beneran buta?' 
Mungkin pikiran gw agak sedikit jahat, tapi ya gimana lagi, di Indonesia kita tercinta, yang suka minta-minta uang itu (gw gatau istilah halusnya, maaf kalau terlalu kasar) biasanya punya banyak akal biar mereka dikasih uang. Kadang gw suka ga tega ngeliatin mereka nyanyi-nyanyi gitu tapi ga diwaro sama pengemudi mobil (semacam gw, tapi gw memperhatikan mereka
Gw pun kalo lagi ga ada uang receh, mau nolak mereka dengan gerakan tangan, baru sadar mereka ga bisa liat, jadi ya gw cuma bisa menunggu mereka menyadari bahwa mereka ga akan dapet uang 
Pikiran gw akan 'apa bener mereka buta', terjawab ketika gw mesti tambal ban di daerah Jalan Pajajaran. Di Jalan Pajajaran itu kan ada SLB Negeri Tuna Netra, Wiyataguna. 
Angin sepoi-sepoi, gw duduk di trotoar sambil liatin abang-abang tambal ban benerin ban mobil, kemudian gw terdistraksi oleh dua orang tuna netra yang berjalan ke arah gw. Salah satu dari mereka membawa gitar, satunya lagi menuntun jalan dengan menggunakan tongkat. Setelah gw perhatikan baik-baik, mereka adalah pengamen buta yang seringkali gw liat di perempatan Dukomsel Dago. 'Dan ternyata mereka beneran buta', hening 
Gw merasa bersalah atas pikiran jahat gw pada mereka. Bayangkan, demi mendapatkan uang, mereka rela berjalan 2,6km dari tempat mereka tinggal ke Dukomsel Dago. Entah mereka naik angkot seterusnya atau terus berjalan. HELLO, mereka buta, dan mereka hapal jalan ke Dago dengan berjalan kaki (itu kalau jalan kaki). Kalau naik angkot, apa mereka tau angkot mana yang harus mereka naiki? Melihat pun mereka tidak bisa. Betapa sempurnanya tiap makhluk hidup yang Tuhan ciptakan. Dimana ada kekurangan, di situ ada kelebihan. Kita yang -bisa dibilang- sempurna fisiknya, masih bermalas-malasan? Berkacalah. Hehehe 
Jalur perjuangan pengamen buta

No comments:

Post a Comment