Thursday, May 22, 2014

Day 3 - Goes To Lombok

19 Januari 2014
Yeay. Kembali lagi dengan cerita perjalanan Lombok. Masa dimana gue dan Yolanda bener-bener macam hilang arah, atau cuman gue aja?
Hari ini, engga mau tau, harus banget, pokoknya mesti banget jadi ke Gili Trawangan setelah kemarin gagal meng-Gili.
Seperti biasa, geng kapal telat dateng. Engga apa, bukan hal yang mesti disesalkan, karena pada akhirnya kami jadi ke Gili Trawangan.
Seperti biasa juga, gue disetirin Dary lagi, setelah sebelumnya katanya mau ada rotasi perboncengan dengan mereka yang seenaknya main diskusi sendiri. Hahahaha. Lucy engga mau diboncengin Dary, itu lucu! Gue tau perasaan Lucy. Akhirnya, mau engga mau gue lagi bareng Dary. Katanya, dia bakal pelan untuk hari ini. Nyatanya? ENGGA. Dary tetep ngebut.
Gara-gara ngebut ala-ala pembalap, gue sama Dary hampir terperosok jatuh pas di belokan. Untung bukan jurang, kalau itu jurang, engga mau dibayangin ah!
Sekitar jam 10an, kami tiba di Pelabuhan Bangsal. Cukup siang juga kami berangkat menuju Gili Trawangan. Mana cuaca saat itu pake mendung segala. Gue yang parnoan sama naik kapal dan laut, makin parno.
Secuil video
Bisa dilihat kan dari video kalau gue super takut? Hahahhaa. Malu sih liat video sendiri, tapi ya gimana lagi, emang dasarnya takutan. Tapi, tenang saja, misi selanjutnya dalam hidup gue adalah 'Sapi Wanita Pemberani'.
Mabok Duren
Suasana kapal
Lucy dan Dadika 'Geheng'
Nyampe Gili Trawangan, istirahat bentar. Soalnya ada yang mabok duren. Setelan keren, tapi mabok duren. *kemudian ngaca*
Sebenernya bingung kalo di Gili Trawangan tuh mesti kemana, apalagi waktu kami sempit. Cuman sampe siang, soalnya takut gelombang laut makin gede kalo makin sore. Jadilah, gue ajak mereka ke arah barat (entah bener apa engga), pokoknya dari papan Gili Trawangan itu, gue bawa mereka ke arah kiri.
Gili Trawangan engga banyak berubah, paling cuman nambah hotel doang. Masih dengan delmannya. Masih dengan orang-orang demen party. Masih juga dengan kebersihannya. Menurut gue, Gili Trawangan bersih, engga tau ya pendapat yang lain gimana.
Sesungguhnya, yang kami lakukan di Gili Trawangan adalah 'numpang makan siang'. Nyari tempat enak buat makan tapi bukan beli makan, karena Dadika bawa perbekalan dari rumah sodaranya. Asalnya mau di Sunset Bar karena masih sepi, tapi yang lain engga mau. Dilanjutlah perjalanan ke ujung pulau (meski engga ujung banget).
Akhirnya setelah sekian lama jalan, nemu juga tempat cozy. Walau ga secozy yang bisa dibayangkan. Jadi, tempatnya semacam bekas tempat nongkrong gitu, tapi udah ga kepake. Tapi, adem, angin sepoi-sepoi, ombak yang tenang, dan teman-teman. Sayangnya, gue engga ambil foto saat itu. Jadi, hanya bisa dikenang melalui ingatan.
Beres makan, kami pun pulang. Jam juga udah cukup siang. Cuaca juga engga mendukung, karena kami engga mungkin nginep di pulau ini. Lucy harus pulang ke Jakarta besok pagi. Kami pun bergegas, tidak lupa membereskan bekas makan siang kami dan membuangnya di tempat sampah (jalan-jalan jangan sampai lupa menjaga lingkungan).
Naik kapal, dan kami pun diserang badai. Bukan hujan, sih. Hujan juga, tapi ya gitu, badai. Entah kenapa, tiap gue ke Gili Trawangan, pasti diserang badai. Memang selalu salah waktu kalau jalan-jalan. Hahaha. Gue pun stress di jalan, di kala yang lain masih bisa ketawa-ketawa. Padahal kapal udah cukup oleng. Gue panik sendiri.

Lebih panik lagi karena abang kapten bilang kalau kapal engga bisa merapat ke Pelabuhan Bangsal karena keadaan tidak memungkinkan. Betapa merindunya gue saat itu sama daratan. Jadilah, kapal beralih pelabuhan untuk berlabuh. Gue lupa namanya, pokoknya jauh dari Bangsal. Sedih? Banget.
Sampe di pelabuhan, kami harus jalan cukup jauh untuk sampai ke jalan raya yang banyak kendaraan biar kami bisa kembali ke Bangsal dan mengambil motor kami.
Dan, cobaan kembali harus dihadapi. Angkot pun tidak ada. Apalagi ojek. Niatan mau jalan kaki sampai Bangsal, tapi itu bener-bener gambling karena kami tidak tahu jalan dan hp pada mati semua.
Tiba-tiba, ada 'peri' datang dengan kuda dan gerobak. Dengan Bahasa Sasak, dan mencoba berbicara Bahasa Indonesia, sepertinya dia menanyakan tujuan kami (berarti kami keliatan banget bingungnya). Karena sama-sama engga ngerti, kami pun semua tertawa bareng peri yang bersosok bapak-bapak tua. Ada ibu-ibu baik mau menerjemahkan apa yang dimaksud si bapak, jadi dia semacam translator dan mediator. Alhamdulillah, si bapak mau mengantar kami ke Pelabuhan Bangsal. Bayarnya? Seikhlasnya. Subhanallah.
Kami ber-6 pun menaiki gerobaknya. Tolong jangan bayangkan gerobaknya itu semacam gerobak sampah, sama sekali bukan seperti itu. Justru sebenernya bukan gerobak, susah dijelaskan. Yang pasti bukan buat ngangkut orang, tapi ngangkut barang! Kami pun sempit-sempitan.
Ternyata jarak ke Bangsal jauh juga! Untung engga jadi jalan. Kebayang, gempor duluan terus kagak sampe-sampe, mana hujan. Tapi, dengan kejadian ini, kami jadi melihat lebih banyak keindahan alam yang dimiliki Lombok yang mungkin engga banyak wisatawan yang bisa melihatnya. Puji syukur.
Beres dari Bangsal, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pusuk. Dan sekali lagi, gue dan Dary hampir terperosok. Kali ini sebelah kirinya tuh adalah sawah, semacam itulah. Hahahaha!
Kami cuman numpang lewat Pusuk, lagian cuman liat monyet doang sih bisa liat Dadika *peace*. Setelah itu, kami lanjut ke Taman Air Narmada, niatan mau berenang. Tapi ternyata, kolam renangnya tutup jam 5 sedangkan kami baru sampai di situ jam setengah 5. Engga apa lah, yang penting bisa awet muda, gitu katanya. Cuman Yolanda, Dary, dan Dadika yang nyicipin kolam renangnya. Seperti biasa, gue jadi tukang foto dan fotonya hilang sekarang. Gannu pun hilang mood untuk berenang, katanya kagok kalau cuman bisa sebentar.
Beres dari Narmada, kami berniat pulang. Makan di kota, makan makanan khas Lombok, Ayam Goreng Taliwang. Gue lupa lokasinya dimana, yang pasti deket Cakranegara.
Karena sudah malam, kami harus kembali ke kosan, tapi kami lupa jalan pulang. Lucy yang seharusnya menjadi guide pun, dia lupa jalan. Malah membawa kami ke sebuah desa antah berantah yang semakin dalam semakin gelap, yang katanya jalan itu membawa kami lebih dekat ke arah kosan. Hahahaha.
Pada akhirnya, puter balik dong, daripada nyasar dan ditelan bumi, mana bensin sekarat juga.
Sepulangnya, kami hujan-hujanan. Parah, hujan gede banget. Tiada hari tanpa hujan.
Engga apa-apa, yang penting kami have fun.
Photo Courtesy: Dadika
Instagram

2 comments:

  1. anjirr lah, monyet disamain sama gue...
    ayo kapan explore lgi, Kawah Ijen kalian kan belom pernah. hahaha

    ReplyDelete