Thursday, May 12, 2016

Mampir di Teras Cikapundung Bandung

Sudah hampir 3 tahun Bapak Ridwan Kamil menjabat sebagai Walikota Bandung. Selama masa jabatannya pula, perubahan yang terasa adalah semakin menjamurnya ruang terbuka di Kota Bandung. Selain lampu di Jembatan Layang Pasupati dan Gedung Sate yang sempat membuat gue rindu akan Kota Bandung pada masanya, taman-taman yang dibangun maupun dibuka pada masa jabatan beliau membuat gue penasaran akan tenarnya taman-taman tersebut.

Salah satunya adalah Teras Cikapundung yang terletak di Jalan Siliwangi. Dulu, sebelum ada Teras Cikapundung, mana ada kepikiran untuk sekedar menengok ke bawah jembatan Siliwangi, males banget rasanya. Semenjak ada berita tentang revitalisasi sungai di bawah jembatan Siliwangi, tiap melewati Jalan Siliwangi, rasa penasaran selalu mengiringi, "Mau dijadikan apakah tempat itu?".
Rasa penasaran makin menghantui setelah berita diresmikannya Teras Cikapundung sebagai salah satu ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Euphoria masyarakat sangatlah tinggi, termasuk gue.
Baru-baru ini gue mengunjungi Teras Cikapundung berbekal rasa penasaran sekaligus mencari sebuah inspirasi. Ternyata, meskipun weekday, Teras Cikapundung pun tetap ramai pengunjung. Pengunjung yang gue lihat saat itu sekedar berkumpul dengan keluarga, datang dengan pasangan, berfoto-foto, bahkan ada yang membawa bekal makanan dan makan di ampitheatre. Keren.
Mungkin gue datang di saat yang kurang tepat, pengen liat air mancur, tapi engga jalan. Air sungainya pun coklat banget, persis kayak warna susu coklat.
Selain bisa 'piknik' di Teras Cikapundung, kita juga ternyata bisa melakukan aktivitas rafting. Sayangnya, di saat gue berkunjung, lagi engga ada yang rafting.
Rafting
Tarif Rafting
Untuk berkunjung ke Teras Cikapundung, tidak dikenakan biaya apapun. Paling hanya biaya parkir kendaraan. Di Teras Cikapundung pun ada spot untuk berdonasi atas nama 'menjaga kebersihan taman', semoga saja dana yang didonasikan memang digunakan dengan sebaik-baiknya, meskipun hanya dipungut Rp2.000,-. Masuk ke toilet pun harus bayar, gue memang tidak ke toilet saat itu, tapi melihat di dekat toilet ada seorang yang duduk dengan kotak uang di depannya selayaknya penjaga toilet.
Ampitheatre
Stop Kontak
Di area ampitheatre pun ada cukup banyak stop kontak, tapi sayangnya ketika gue mencoba salah satu untuk charge handphone, ternyata tidak berfungsi. Bisa jadi sengaja dimatikan karena beberapa waktu belakangan ini banyak sekali bermunculan para pencari stop kontak karena baterai handphone habis dan tidak membawa powerbank. Gue engga tau apakah stop kontak itu akan berfungsi apabila ada acara di Teras Cikapundung.
Cinta Kebudayaan & Pariwisata
Seindah Kenangan Sama Mantan
Cobalah sekali-kali menjadi turis di kota sendiri, jangan malu-malu. Jangan keseringan nongkrong di cafe, cobalah ke ruang terbuka hijau, menikmati alam.
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!

No comments:

Post a Comment